Jumat, 17 Mei 2013

MOTIVASI (duar duer duerrrrian)



Ehemmm,,,gni2 jga prnah jadi trainer lohh (><’’’’). Suatu pengalam yang mnantang tpi jga mengesankan. Pokoe bikin duerduerduerrrrrrr(duerian deh)


Brawal dari ajakan temen ikut TFT (Training of Trainer) mnghantarkanku merasakan pengalaman berharga ini.

Setengah hati saat mau mendaftar (krna saat itu benar2 laporan menumpuk) alibi tapi emang bener fakta mbake.

Tahap2 scrining aku hadapi hingga akhirnya bsa ikut TFT. Yahhh bsa dibilang platihan atau cra2 kta bisa jdi trainer sjati hahaha (kata2 ini cuiy gak nguati)

Daftar dngan stngah hati,,, tpi men bnar2 aku ikuti acara trsbut dgn niat bhwa akku ingin bnar2 blajar (^^;) (ya emang bner ingin blajar gak bo.ong mbake)


Smpat hri k.2 ingin rasanya tak mau ikut….msih kuat tersimpan d.bnaku waktu itu. KTIKA DIHADAPKAN HARUS MENJADI TRAINER 20 MENIT DENGAN MATERI DIBUAT POWER POIND DENGAN TEMA D.BIKIN SMENARIK MUNGKIN. Yg bkin stress bukan hrus berpresentasinya tpi ktika aku harus buat PP tngah malam,, 

padahal waktu itu ada acara dan baru sampai solo jam 10.00 malam,,bayangkan (udah aku bayangkan kok) ngantuk, letih harus membuat PP yang notabene menrik dgan ide tema sendiri (glodakkkkk).

Ya apa boleh buat dengan tnaga dan pikiran yg tersisa (wkwkwwkw) aku niatkan bsuk aku bsa tampil. Walaupun PP yg aku buat tak sluruhnya smpurna dan tak bgtu menarik tpi satu kata2 Man Jadda Wa Jada itu yg membuatku brsemangat membuat PP semalaman suntuk hingga mau subuh (lebay)..

Hasilnya pun tak mengecewakan Man Jadda Wa Jada !,,,aku bsa trpilih untuk menjadi slah satu trainer di Fakultas ku. Sock iya, bangga jga iya.

Sock.ya aku blum pernah berpengalaman soal begituaan (trainer) dan harus d.hadapkan suatu acara yang bsa dibilang acara besar Fakultas untuk memotifasi maru (puyengggg) dan duerrrr.y bikin sakit hati jga sihhh (nangis jga lo waktu itu ^^:). Tmnku tdak trpilih, yah tmen yg mengajak aku saat daftar tadi tdak trpilih (coba bayangkan gmana perasaan dia dan dampaknya di aku ayo bayangkan bake),,,  

Parahnya ada konflik sdikit antara aku dan dia (skit hati dan nangis waktu itu) padahal bsuknya udah harus d.dpan adek2  kasih materi dan motifasi (pdhal aku sdri btuh motivasi).

 Lelah karena seharian menyiapkan acara bsar itu dan beban pikiran juga dan masih harus blajar buat materi yg d.sampaikan dengan pngemasan semenrik mkin hrus aku lakukan. Yah satu kali lagi Man Jadda Waa Jada. Allah menolong ku dan lancer sampai hari terakhir. Dengan keadaan yg sama beban mental dan lelah seharian dengan ini itu dan malamnya hrus bljar (ribettt banget non) tapi yaitu NIAT,,,Niat mjadikan kmudahan bagiku.

Dan Skali lagi Man Jadda Wa Jada,, hari trakir luar biasaa hari yang indah. Aku merasa Trainer adalah sisi lain dari diriku aku mendapatkan.ya di saat2 trakhir. Ya Robb Engkau memberikan pngalaman yg berarti bagi hidupku,,,yah akhir dari ini smua acara sukses dan temanku jga baik lagi pda ku…INDAHNYAAA

Man Jada Wa Jada! Kalimat yang menghantarkanku akan pngalaman ini

Man Jadda Wa jada!!! Kalimat yg aku tuliskan di tugas PP ku saat platihan trainer

Ternyata kekuatan dari kata kata itu luar biasa menghipnotisku. Bukan karena kekuatan gaib atau smacam hal-hal musrik lainya. Tetapi kalimat arti dari kalimat ini. 

Man jadda Wa Jada = Jika kamu bersungguh-sungguh maka akan sukses

LUAR BIASA KAN KEKUATAN NIAT   

CC. Lusia Nur Rohmah #smata2v dan bkan apa2 dan tak perlu di debatkan ini hanya untaian kata yang mungkin bisa memotivasi tman2 skalian dan dri ini yang kadang lupa pnuh kekurangan smga termotivasi....

Kamis, 16 Mei 2013

DEMA 2012



Ingatttt banget ni sama foto ini,,, foto terakhir kta kumpul2 breng DEMA 2012 kangeennnn
Hahaha masa2 yang masih butuh bimbingan (ababil wkwkwk)…………… yahh bru pertama ikut organisasi ini maklum >~~<,,, 

Sore2 habis monitoring mbak tanti brkata : “ dek lusi sama hesti cari tempat dulu bwat nati buber sama alumni ya ni dah sore, tar yg d.sini mbak hendel”. Dgan muka polos kita pun menyawab: “Iya mbak, skrang? (dalam hati yg dalammm)”.

OK kta pun siap mlaju (WuZZzzzzz). Bayangkan saja bulan puasa habis monitoring dari pagi sampe sore,,,udah muka kaya minyak, kringatan (bauuukkk kaburrrrrrr). Kta ttpa semangat untuk melakukanya.

Kangen skali lagi kangen !!!!
 
Saat itu mbak2e dan mas2e dah pada dating suasanapun menjadi riang gembira (trasa lelah ini hilang begitu sja) hikhikhik :( :(



Dan saat sesi pertanyaan (momen2 paling lugu) dari kakak2 yah waktu itu mbak lusi, mabk tanti menanyakan pada ku. 

Begini nihhh “dek apa yang membuat kamu masuk DEMA”. Terus jawabanku simple tanpa basa-basi “aku masuk Dema karena ada mbak2.y yang nyuruh masuk lembaga ini”. Trus mbaknya Tanya lagi “ skarang gimana rasanya di DEMA?”. 
Dan jawabanku :”asik mbak, tpi juga bingung blum tau apa DEMA itu sndiri”.  Yah itulah jawaban yang terfikir sampai sekarang….dengdeng apa apa apa. “ Apa DEMA itu sndiri”””. Hemmm padahal udah mau akhir kepengurusan ( skali lagi maklummm lah dari orang yg gak suka politik wuakakkkk).

Tapi kebersamaan yg diberikan sungguh luar biasa tmen2 aku kangen.


 



Senin, 08 April 2013

HEWANI



Cara memilih daging yang baik ialah dengan melihat warna, mencium baunya dan merabanya. Daging yang baik warnanya merah segar,  baunya aromatis, konsistensi liat, rasa agak manis dan khas, terdiri dari serat-serat bergaris melintang yang arahnya sejajar. Bila menyimpang dari tanda-tanda tersebut diatas misalnya daging sudah berbau tidak enak, warna merah hitam atau bila ditekan dengan ujung jari meninggalkan bekas, maka kualitas daging itu sudah tidak baik lagi (Muzarnis, 1982). Tujuan dari acara I pembuatan produk dan uji kualitas produk daging secara umum adalah dapat melakukan pengawetan dan pengolahan daging dengan baik dan benar sehingga dapat memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kualitas daging. Uji kualitas produk daging yang pertama adalah uji eber. Prinsip kerja uji eber adalah mengambil sedikit daging yang akan diuji, dicincang, dan dilarutkan dengan menggunakan larutan eber yang terbuat dari dietil eter, HCl pekat dan alcohol 96% dengan perbandingan 1:1:3 Tujuan dari  uji eber adalah untuk mengetahui kualitas produk daging. Daging dinyatakan busuk jika  pada uji ini ditandai dengan terjadinya pengeluaran asap di dinding tabung, dimana rantai asam amino akan terputus oleh asam kuat (HCl) sehingga akan terbentuk NH4Cl (gas). Semakin banyak asap pada dinding tabung, maka semakin jelek kualitas dari daging tersebut atau daging tersebut semakin busuk.
Sampel yang digunakan pada acara 1 uji eber adalah daging disimpan pada suhu ruang dan daging yang disimpan pada suhu dingin. Pada uji ini dilakukan pengamatan 3 kali pada hari ke-0, 2 dan 7. Semakin banyak asap yang timbul maka akan semakin banyak tanda + (plus) yang dihasilkan. Dari hasil praktikum uji eber untuk daging yang disimpan pada suhu ruang pada kelompok 1 hari ke-0 (+) tidak ada asap, hari ke-2 (+++) terbentuk asap sedang dan untuk hari ke-7 (++++) banyak asap yang terbentuk. Jika dibandingkan dengan kelompok 3 dengan sampel yang sama hari ke-0 sama tidak ada asap sedangkan pada hari ke-2 (+++) terbentuk banyak asap dan ada gelembung, hari ke-7 (+++++) asap yang terbentuk sangat banyak dan banyak gelembung gas. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan ini adalah daging yang kesegara untuk daging yang diuji berbeda, ketelitian praktikan saat pengamatan, kesalahan saat melakukan uji. Sedangkan untuk daging yang disimpan pada suhu dingin (freezer) untuk kelompok 2 pada hari ke-0 (+) tidak terbentuk asap, hari ke-2 (++) ada sedikit asap, hari ke-7 (+++) asap yang terbetuk sedang. Jika dibandingkan kelompok 4 yang mana dengan sampel yang sama terdapat perbedaan pada hari ke-0 dan ke-2. Untuk hari ke-0 (++) ada sedikit asap dan untuk hari ke-2 asap yang terbentuk sedang sama dengan hari ke-7.
Dari hasil praktikum tersebut dapat disimpulkan bahwa penyimpanan yang paling baik adalah daging yang disimpan pada suhu dingin (freezer) dikemas menggunakan plastik PE karena asap yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan sampel daging pada suhu ruang. Metode penyimpanan refrigerasi adalah penyimpanan pada suhu di atas titik beku daging, daya tahan bahan pangan yang disimpan pada temperatur refrigerasi hanya sementara, yaitu berkisar dari antara beberapa hari sampai beberapa minggu bergantung pada bagian daging dan penanganan daging sebelumnya. Prinsip utama dari penanganan daging dengan cara penyimpanan refregerasi yang harus diperhatikan adalah bahwa temperatur penyimpanan daging harus tercapai secepat mungkin setelah pemotongan ternak ataupun pengolahan. Suhu refrigerasi tidak dapat mematikan semua mikoorganisme yang ada di dalam daging, tetapi hanya menghambat kecepatan pertumbuhan miroorganisme dan reaksi-reaksi kimia dan biokimia di dalam daging, sehingga penyimpanan cara ini disebut sebagai usaha penyimpanan, bukan sebagai usaha pengawetan. Salah satu keuntungan dari daging yang disimpan dengan cara refrigerasi adalah sifat organoleptik (rasa, tekstur, kenampakkan, flavor, aroma) dan nilai gizinya hampir tidak dapat dibedakan dengan karakteristik yang dimiliki daging segar. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpanan daging di dalam refrigerator, yaitu: panas spesifik daging, berat dan ukuran daging, jumlah lemak yang ada pada permukaan daging, jumlah daging di dalam ruang pendingin, temperatur alat pendingin. Dapat diamati bahwa semakin lama daging disimpan maka akan semakin banyak asap dan gelembung yang terbentuk, sehingga semakin busuk daging yang dihasilkan. Pembusukan ini terjadi karena aktivitas bakteri pembusuk meningkat dan terjadi proses fermentasi oleh enzim-enzim yang membentuk asam sulfida dan amonia. Kandungan zat-zat makanan di dalam daging mudah sekali rusak oleh lingkungan sekitar, oleh karena itu diperlukan penanganan yang baik.
Tabel 1.2 Hasil Pengamatan Uji pH pada Daging
Kelompok
Sampel
Plastik
pH hari ke
0
2
7
1
Daging disimpan suhu ruang
PP
7
8
9
2
Daging disimpan suhu dingin
PE
7
7
8
3
Daging disimpan suhu ruang
PE
7
8
9
4
Daging disimpan suhu dingin
PP
7
7
8
Sumber: Laporan Sementara
 Uji kualitas produk daging yang kedua adalah uji pH. Prinsip kerja dari uji pH adalah sampel dicincang, ditambah aquades dan diuji dengan menggunakan kertas indicator pH. pH merupakan faktor penentu dari pertumbuhan mikroba, maka pH akhir dari daging sangat penting untuk ketahanan penyimpanan daging.  Nilai pH otot (otot bergaris melintang atau otot skeletal atau yang disebut daging) saat hewan hidup sekitar 7,0-7,2 (pH netral).  Setelah hewan disembelih (mati), nilai pH dalam otot (pH daging) akan menurun akibat adanya akumulasi asam laktat.  Penurunan nilai pH pada otot hewan yang sehat dan ditangani dengan baik sebelum pemotongan akan berjalan secara bertahap, yaitu dari nilai pH sekitar  7,0-7,2 akan mencapai nilai pH menurun secara bertahap dari 7,0 sampai 5,6 – 5,7 dalam waktu 6-8 jam postmortem dan akan mencapai nilai pH akhir sekitar 5,5-5,6.  Nilai pH akhir (ultimate pH value) adalah nilai pH terendah yang dicapai pada otot setelah pemotongan (kematian).   Nilai pH daging tidak akan pernah mencapai nilai di bawah 5,3.  Hal ini disebabkan karena pada nilai pH di bawah 5,3 enzim-enzim yang terlibat dalam glikolisis anaerob tidak aktif berkerja. (Lukman, 2010).
Pada praktikum uji pH sampel yang digunakan adalah daging yang disimpan pada suhu ruang dan daging yang disimpan pada suhu dingin . Praktikum dilakukan dengan pengamatan selama seminggu. Pengamatan hari ke-0, ke-2, dan ke-7. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan kertas indikator pH. Dari hasil praktikum uji pH sampel daging yang disimpan pada suhu ruang  untuk kelompok satu didapatkan pH pada hari ke-0 adalah 7, hari ke-2 adalah 8 dan hari ke-7 9. Begitu juga pada kelompok 3 dengan sampel yang sama pH yang dihasilkan juga sama. Sedangkan pada sampel daging yang disimpan pada suhu dingin (freezer) pH yang dihasilkan daging  untuk kelompok 2 dan 4 sama. Pada hari ke-0 didapatkan pH 7, hari ke-2 pH yang dihasilkan sebesar 7 dan untuk hari ke-7 pH yang dihasilkan sebesar 8. Dari hasil praktikum tersebut penyimpanan yang baik adalah pada suhu freezer karena pH yang dihasilkan tidak terlalu basa. Hasil praktikum ini jika dibandingkan dengan teori tidak sesuai. Standar pH daging hewan sehat dan cukup istirahat yang baru disembelih adalah 7-7,2 dan akan terus menurun selama 24 jam sampai beberapa hari. Jika terjadi pembusukan maka pH nya akan kembali ke 7. Terbentuknya asam laktat menyebabkan penurunan pH daging dan menyebabkan kerusakan struktur protein otot dan kerusakan tersebut tergantung pada temperatur dan rendahnya pH. Setelah hewan disembelih, penyedian oksigen otot terhenti. Dengan demikian persediaan oksigen tidak lagi di otot dan sisa metabolisme tidak dapat dikeluarkan lagi dari otot. Jadi daging hewan yang sudah disembelih akan mengalami penurunan pH (Purnomo dan Adiono, 1985).
Faktor-faktor yang menyebaban ketidak sesuaian hasil praktikum dengan teori adalah kesalahan praktikan saat melakukan uji. Pada beberapa hewan penurunan pH terjadi pada jam-jam pertama setelah hewan dipotong, dan akan stabil pada pH sekitar 6,5 – 6,8. ada juga hewan dimana penurunan pHnya terjadi dengan cepat dan mencapai 5,4 – 5,5 dalam jam pertama setelah eksanguinasi. Menurut Buckle et al. (1987) pH akhir yang tercapai mempunyai pengaruh yang berarti dalam mutu daging. pH rendah (5.1-6.1) menyebabkan daging mempunyai struktur terbuka sehingga sangat baik untuk pengasinan, berwarna merah muda cerah sehingga disukai oleh konsumen, mempunyai flavor yang lebih disukai dan mempunyai stabilitas yang lebih baik terhadap kerusakan oleh mikroorganisme. pH tinggi (6.2-7.2) menyebabkan daging mempunyai struktur tertutup atau padat dengan warna merah ungu tua, rasa kurang enak dan keadaan yang lebih memungkinkan untuk perkembangan mikroorganisme.
Dari seluruh hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa semakin lama daging akan mengalami kerusakan atau sering disebut dengan pembusukan. Hampir semua bakteri dapat tumbuh optimal pada pH 7 dan tidak akan tumbuh pada pH 4 atau pH di atas 9. Pembusukan dapat terjadi karena aktivitas bakteri pembusuk meningkat dan terjadi proses fermentasi oleh enzim-enzim yang membentuk asam sulfida dan ammonia. Pada umumnya, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme pada daging ada dua macam yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah nilai nutrisi daging, keadaan air, pH, potensi oksidasi-reduksi dan ada tidaknya substansi pengahalang atau penghambat. Faktor ekstrinsik, adalah temperatur, kelembaban relatif, ada tidaknya oksigen dan bentuk atau kondisi daging (Fardiaz, 1992). Penanganan daging yang baik harus dimulai sejak ternak itu sebelum dipotong, pada saat pemotongan dan setelah pemotongan.
Tabel 1.3 Hasil Pengamatan Berat Daging Selama Penyimpanan
Kelompok
Sampel
Berat (gram)
Keterangan
Hari ke 0
Hari ke 2
Hari ke 7
1
Daging Segar
5


Suhu Ruang
Daging I
5
4,4

Daging II
5
4,4
3,4
2
Daging Segar
5


Suhu Refil
Daging I
5
3,9

Daging II
5
3,9
3,4
3
Daging Segar
5


Suhu Ruang
Daging I
5
3,7

Daging II
5
3,7
4,5
4
Daging Segar
5


Suhu Refil
Daging I
5
4,5

Daging II
5
4,5
3,3
Sumber: Laporan Sementara
Pengamatan berat daging sealama penyimpanan bertujuan untuk mengetahui apakah ada perubahan berat selama penyimpanan. Menurut Wismer-Pedersen (1971), kenaikan berat dapat terjadi karena peran mikroorganisme yang ada di daging terutama mikroorganisme pembusuk. Daya ikat air oleh protein disebut WHC (Water Holding Capacity) yaitu kemampuan daging untuk menahan air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan, misalnya pemotongan daging, pemanasan, penggilingan, dan tekanan. Pada praktikum acara I untuk mengetahui kualitas daging selain dengan menggunakan uji eber dan uji pH juga dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap berat daging selama penyimpanan. Sampel yang digunakan dalam acara ini adalah menggunakan daging yang masih segar dengan berat 5 gram daging sapi, tetapi untuk kelompok 1 dan 3 daging disimpan pada suhu ruang, sedangkan untuk kelompok 2 dan 4 daging disimpan pada suhu refill atau dingin. Selain itu kemasan yang digunakan untuk penyimpanan daging juga berbeda untuk kelompok 2 dan 3 menggunakan plastik PE sedangkan kelompok 1 dan 4 menggunakan plastik PP. Penyimpanan daging dilakukan selama 7 hari dan diamati 3 kali yaitu pada hari ke-0, 2 dan ke-7. Mekanisme kerja dari pengamatan berat daging selama penyimpanan adalah pertama daging dipotong dan ditimbang sebesar 5 gram, kemudian daging dikemas menggunakan plastik dan disimpan pada perlakuan penyimpanan masing-masing yaitu pada suhu dingin (refill) dan suhu ruang. Dilakukan pengamatan pada hari ke-0, 2 dan 7 dengan menimbang sampel sesuai perlakuan masing-masing.
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan untu kelompok 1 daging yang disimpan pada suhu ruang dengan menggunakan plastik PP pada hari ke-2 dihasilkan berat sebesar 4,4 gram, hari ke-7 sebesar 3,4 gram. Sedangkan untuk kelompok 3 dengan sampel dan suhu penyimpanan yang sama tetapi menggunakan plastik PE pada hari ke-2 didapatkan berat sebesar 3,7 gram dan hari ke-7 4,5 gram. Untuk kelompok 2 dengan sampel daging disimpan pada suhu refil menggunakan plastik PP didapatkan berat untuk hari ke-2 sebesar 3,9 gram, hari ke-7 3,4 gram. Sedangkan kelompok 4 dengan menggunakan plastik PP, untuk hari ke-2 beratnya sebesar 4,5 gram dan hari ke-7 beratnya sebesar 3,3 gram Dari hasil tersebut susut berat yang paling tinggi adalah daging yang disimpan pada suhu refil dengan menggunakan platik PP. Sedangkan daging yang mengalami penyusutan berat yang paling sedikit adalah daging yang disimpan pada suhu ruang dengan menggunakan plastik PE. Dapat disimpulakan bahwa kualitas daging yang baik adalah daging yang disimpan dengan menggunakan plastik PP pada suhu dingin atau refill. Sedangkan daging yang kualitasnya paling buruk adalah daging yang disimpan dengan menggunakan plastik PE pada suhu ruang. Hal ini sudah sesuai dengan teori. Bahwa daging yang disimpan pada suhu dingin  terjadi proses penguapan dari dalam daging dan keluarnya weep dari dalam daging sehingga akan menurunkan kadar air dalam daging. Penurunan kadar air mempengaruhi berat daging. Semakin rendah suhu penyimpanan daging maka semakin banyak kadar air yang hilang sehingga daging menjadi keriput. Penyimpanan pada suhu ruang menyebabkan daging cepat rusak akibat dari bertambahnya kadar air pada daging. Bertambahnya kadar air pada daging disebabkan karena daging mampu menahan air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan, misalnya pemotongan daging, pemanasan, penggilingan, dan tekanan.Hal tersebut dapat menyebabkan mikroba dapat tumbuh dan berkembang biak terutama mikroba pembusuk (Forrest, 1975).