Tampilkan postingan dengan label Laporan Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Ku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2015

UJI DUO TRIO



Uji duo-trio mirip digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan di antara dua contoh. Kepada panelis disajikan 3 buah contoh dengan satu contoh adalah contoh baku (A) dan dua lainya adalah contoh yang akan diuji (X dan Y). Panelis diminta untuk menentukan mana di antara dua buah contoh X atau Y yang sama dengan A. Analisis data dapat dilakukan dengan menggunakan uji statistic one-tailed paired-difference test. Prosedur yang digunakan disajikan ke hadapan panelis satu contoh baku dan dua contoh yang akan diuji (keduanya diberi kode). Uji duo-trio merupakan bagian dari uji pembanding yang digunakan untuk menilai atau menstandarisasi suatu produk bahan baku apakah masih dalam yang baik atau tidak. Uji duo-trio dapat dikatakan mirip seperti uji segitiga yaitu dengan memberI penilaian “1” jika produk yang dirasa oleh panelis berbeda dan angka “0” jika produk yang dirasa oleh panelis sama. Hanya saja pada uji ini penguji memberitahu 1 pembanding (reference) yang barulah kemudian dapat dibandingkan dengan kedua kedua contoh lain yang disajikan.
Uji Duo Trio acara III  bertujuan untuk mencari perbedaan yang kecil pada sampel yang di sajikan. Setiap panelis disajikan tiga contoh (dua contoh dari sampel yang sama dan satu contoh dari sampel berbeda). Prinsip dari uji duo trio hampir sama dengan uji segitiga, tetapi dalam uji ini dari awal sudah ditentukan pembanding yang dibandingkan dengan kedua contoh lainnya. Dalam penyajiannya, contoh ketiganya disajikan bersamaan. Panelis diminta untuk memilih satu diantara 2 sampel lain yang beda dengan pembanding (reference). Uji duo-trio dapat digunakan untuk melihat perlakuan baru terhadap mutu produk, menilai keseragaman mutu bahan atau mendeteksi adanya perbedaan yang kecil antara dua contoh.
Dalam acara III Uji duo trio kali ini menggunakan  3 sampel kue bolu, dimana dari 3 sampel tersebut terdapat 2 sampel yang terbuat dari bahan baku yang sama dan 1 sampel yang lain terbuat dari bahan baku yang berbeda. Dari 2 sampel yang terbuat dari bahan baku yang sama diberi kode R yang menunjukkan sampel yang digunakan sebagi standart atau sampel baku. Sedangkan sisa dari sampel tersebut diberi kode 548 untuk sampel yang terbuat dari bahan baku yang berbeda dengan contoh baku, sedangkan kode 732 untuk sampel yang terbuat dari bahan baku yang sama dengan contoh baku. Cara kerja dari uji duo trio acara III ini adalah penyaji menyiapkan bahan atau sampel yang akan diujikan, sampel tersebut terdiri dari 3 sampel yaitu 2 sampel dengan bahan yang sama dan 1 sampel dengan bahan yang berbeda. Penyaji memberikan intruksi kepada panelis yaitu panelis diminta untuk memberi tanda (X) pada sampel yang tidak sama dengan sampel baku (R) pada kertas borang yang telah disediakan.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakuakan, untuk atribut warna antara sampel 732 dan 548 dengan jumlah penelis 23 orang, jumlah terkecil untuk menyatakan beda nyata adalah 17 pada tingkat signifikan 5%. Jumlah panelis yang menjawab benar adalah 2 dan 21 . Sehingga dapat dikatakan bahwa dari segi warna sampel kue bolu 732  tidak terdapat beda nyata terhadap sampel baku (R). Dapat disimpulkan bahwa sampel kode 732 memiliki warna yang sama dengan sampel baku. Sedangkan untuk sampel 548 terdapat beda nyata terhadap sampel baku. Karena jumlahnya sama dengan jumlah terkecil panelis untuk beda nyata tingkat 5%. Pada atribut warna sampel 548 beda nyata dengan sampel baku hal ini disebabkan oleh penambahan margaring pada salah satu sampel. Margaring dapat mempengaruhi warna kue bolu yang dihasilkan.   
Dari segi aroma jumlah panelis yang menjawab benar pada sampel 732 adalah 2 dan pada sampel 548 adalah 21. Jika dibandingkan dengan tabel uji duo-trio dengan 23 orang panelis jumlah terkecil untuk menyatakan beda nyata adalah 17 pada tingkat 5%. Untuk atribut aroma sampel 732 tidak beda nyata dengan sampel baku (R). Sedangkan sampel 548 beda nyata dengan sampel baku (R). Pada segi aroma yang menyebabkan beda nyata ini disebabkan oleh kurang ketelitian panelis pada saat melakukan uji, penambahan margaring pada sampel dapat mempengaruhi aroma, semakin banyak margaring yang diberikan semakin harum aroma pada sampel tersebut. Untuk sampel yang tidak beda nyata masih mempunyai kemiripan dan sulit untuk dibedakan dengan sampel baku.
Dari atribut rasa panelis  yang menjawab benar pada sampel 732  adalah 1 dan pada sampel 548 adalah 22. Jika dibandingkan dengan tabel uji duo-trio dengan 23 orang panelis jumlah terkecil untuk menyatakan beda nyata adalah 17 pada tingkat 5%. Sehingga dapat dikatakan dari segi rasa bahwa pada jumlah terkecil untuk tingkat 5% sampel 732 tidak memiliki beda nyata dengan sampel baku karena jumlah panelis yang menyatakan sama masih di bawah persyaratan yang diminta, sedang untuk sampel 548 terdapat beda nyata dengan sampel baku karena jumlahnya sama dengan jumlah terkecil panelis untuk beda nyata tingkat 5%.
Dari atribut tekstur yang menjawab benar pada sampel 732 adalah 2 dan pada sampel 548 adalah 21. Jika dibandingkan dengan tabel uji duo-trio dengan 23 orang panelis jumlah terkecil untuk menyatakan beda nyata adalah 17 pada tingkat 5%. Dari hasil perbandingan dapat dikatakan bahwa kue bolu dengan sampel 732 tidak memiliki beda nyata dengan sampel baku. Karena jumlah panelis yang menjawab benar belum memenuhi kriteria minimum jumlah panelis. Untuk sampel 548 memiliki beda nyata pada tingkat signifikasi 5% dengan sampel baku. Hal ini dikarenakan oleh ada atau tidaknya penambahan margarin. Bolu dengan penambahan margarin memiliki tekstur yang lebih padat dan lembut.
Dari atribut overall atau keseluruhan, jumlah panelis yang menjawab benar terdapat beda nyata pada sampel 732  adalah sebesar 1, sedangkan pada sampel 548 adalah 22. Jika dibandingkan dengan tabel uji duo-trio dengan 23 orang panelis jumlah terkecil untuk menyatakan beda nyata adalah 17 masing-masing pada tingkat 5%. Dapat disimpulkan bahwa untuk atribut overall untuk sampel 732 tidak beda nyata dengan sampel baku belum dapat dikatakan memiliki mutu yang berbeda dengan sampel baku karena jumlah panelis yang menyatakan sama masih di bawah persyaratan yang diminta, sedang  sampel 548 terdapat beda nyata dengan sampel baku.  Dari keseluruhan atribut sampel 732 tidak beda nyata semua dengan sampel baku (R), sedangkan sampel 548 beda nyata semu dengan sampel baku (R). Hal ini dapat disimpulkan bahwa sampel yang sama dengan sampel baku adalah sampel dengan kode 732 karena pada semua atribut sampel 732 menyatakan hasil yang tidak beda nyata dengan sampel baku.
Faktor yang mempengaruhi antara beda atau tidak beda nyata adalah kesalahan terjadidikarenakan waktu pengujian sampel yang terlalu singkat atau ada kesalah pahaman antara panelis tersebut dengan tim penyaji. Padahalsebenarnya rasa kedua kue bolu secara komposisi sudah jauh berbeda danuntuk untuk segi rasa, aroma, tekstur, dan overall kedua bolu tersebut juga berbeda. Kesalahan panelis ini disebabkan karena panelis yang belum bisa melakukan penilaian dengan baik dan panelis belum terlatih untuk melakukan penilaian. Aplikasi yang digunakan dalam uji duo trio ini dapat diterapkan dalam perusahan makanan. Uji duo-trio sering diaplikasikan oleh quality control suatu perusahaan untuk mengetahui komposisi suatu produk kemudian menganalisisnya serta diaplikasikan terhadap produknya. Selain itu uji duo-trio juga diaplikasikan untuk mengukur mutu pangan serta media yang digunakan untuk meningkatkan prospek pemasaran produk yang sesuai dengan selera konsumen. Uji duo trio sering digunakan untuk seleksi panelis, sehingga uji duo trio juga memiliki fungsi untuk seleksi panelis dan memonitoring panelis.

Senin, 08 April 2013

HEWANI



Cara memilih daging yang baik ialah dengan melihat warna, mencium baunya dan merabanya. Daging yang baik warnanya merah segar,  baunya aromatis, konsistensi liat, rasa agak manis dan khas, terdiri dari serat-serat bergaris melintang yang arahnya sejajar. Bila menyimpang dari tanda-tanda tersebut diatas misalnya daging sudah berbau tidak enak, warna merah hitam atau bila ditekan dengan ujung jari meninggalkan bekas, maka kualitas daging itu sudah tidak baik lagi (Muzarnis, 1982). Tujuan dari acara I pembuatan produk dan uji kualitas produk daging secara umum adalah dapat melakukan pengawetan dan pengolahan daging dengan baik dan benar sehingga dapat memperpanjang umur simpan dan mempertahankan kualitas daging. Uji kualitas produk daging yang pertama adalah uji eber. Prinsip kerja uji eber adalah mengambil sedikit daging yang akan diuji, dicincang, dan dilarutkan dengan menggunakan larutan eber yang terbuat dari dietil eter, HCl pekat dan alcohol 96% dengan perbandingan 1:1:3 Tujuan dari  uji eber adalah untuk mengetahui kualitas produk daging. Daging dinyatakan busuk jika  pada uji ini ditandai dengan terjadinya pengeluaran asap di dinding tabung, dimana rantai asam amino akan terputus oleh asam kuat (HCl) sehingga akan terbentuk NH4Cl (gas). Semakin banyak asap pada dinding tabung, maka semakin jelek kualitas dari daging tersebut atau daging tersebut semakin busuk.
Sampel yang digunakan pada acara 1 uji eber adalah daging disimpan pada suhu ruang dan daging yang disimpan pada suhu dingin. Pada uji ini dilakukan pengamatan 3 kali pada hari ke-0, 2 dan 7. Semakin banyak asap yang timbul maka akan semakin banyak tanda + (plus) yang dihasilkan. Dari hasil praktikum uji eber untuk daging yang disimpan pada suhu ruang pada kelompok 1 hari ke-0 (+) tidak ada asap, hari ke-2 (+++) terbentuk asap sedang dan untuk hari ke-7 (++++) banyak asap yang terbentuk. Jika dibandingkan dengan kelompok 3 dengan sampel yang sama hari ke-0 sama tidak ada asap sedangkan pada hari ke-2 (+++) terbentuk banyak asap dan ada gelembung, hari ke-7 (+++++) asap yang terbentuk sangat banyak dan banyak gelembung gas. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan ini adalah daging yang kesegara untuk daging yang diuji berbeda, ketelitian praktikan saat pengamatan, kesalahan saat melakukan uji. Sedangkan untuk daging yang disimpan pada suhu dingin (freezer) untuk kelompok 2 pada hari ke-0 (+) tidak terbentuk asap, hari ke-2 (++) ada sedikit asap, hari ke-7 (+++) asap yang terbetuk sedang. Jika dibandingkan kelompok 4 yang mana dengan sampel yang sama terdapat perbedaan pada hari ke-0 dan ke-2. Untuk hari ke-0 (++) ada sedikit asap dan untuk hari ke-2 asap yang terbentuk sedang sama dengan hari ke-7.
Dari hasil praktikum tersebut dapat disimpulkan bahwa penyimpanan yang paling baik adalah daging yang disimpan pada suhu dingin (freezer) dikemas menggunakan plastik PE karena asap yang dihasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan sampel daging pada suhu ruang. Metode penyimpanan refrigerasi adalah penyimpanan pada suhu di atas titik beku daging, daya tahan bahan pangan yang disimpan pada temperatur refrigerasi hanya sementara, yaitu berkisar dari antara beberapa hari sampai beberapa minggu bergantung pada bagian daging dan penanganan daging sebelumnya. Prinsip utama dari penanganan daging dengan cara penyimpanan refregerasi yang harus diperhatikan adalah bahwa temperatur penyimpanan daging harus tercapai secepat mungkin setelah pemotongan ternak ataupun pengolahan. Suhu refrigerasi tidak dapat mematikan semua mikoorganisme yang ada di dalam daging, tetapi hanya menghambat kecepatan pertumbuhan miroorganisme dan reaksi-reaksi kimia dan biokimia di dalam daging, sehingga penyimpanan cara ini disebut sebagai usaha penyimpanan, bukan sebagai usaha pengawetan. Salah satu keuntungan dari daging yang disimpan dengan cara refrigerasi adalah sifat organoleptik (rasa, tekstur, kenampakkan, flavor, aroma) dan nilai gizinya hampir tidak dapat dibedakan dengan karakteristik yang dimiliki daging segar. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpanan daging di dalam refrigerator, yaitu: panas spesifik daging, berat dan ukuran daging, jumlah lemak yang ada pada permukaan daging, jumlah daging di dalam ruang pendingin, temperatur alat pendingin. Dapat diamati bahwa semakin lama daging disimpan maka akan semakin banyak asap dan gelembung yang terbentuk, sehingga semakin busuk daging yang dihasilkan. Pembusukan ini terjadi karena aktivitas bakteri pembusuk meningkat dan terjadi proses fermentasi oleh enzim-enzim yang membentuk asam sulfida dan amonia. Kandungan zat-zat makanan di dalam daging mudah sekali rusak oleh lingkungan sekitar, oleh karena itu diperlukan penanganan yang baik.
Tabel 1.2 Hasil Pengamatan Uji pH pada Daging
Kelompok
Sampel
Plastik
pH hari ke
0
2
7
1
Daging disimpan suhu ruang
PP
7
8
9
2
Daging disimpan suhu dingin
PE
7
7
8
3
Daging disimpan suhu ruang
PE
7
8
9
4
Daging disimpan suhu dingin
PP
7
7
8
Sumber: Laporan Sementara
 Uji kualitas produk daging yang kedua adalah uji pH. Prinsip kerja dari uji pH adalah sampel dicincang, ditambah aquades dan diuji dengan menggunakan kertas indicator pH. pH merupakan faktor penentu dari pertumbuhan mikroba, maka pH akhir dari daging sangat penting untuk ketahanan penyimpanan daging.  Nilai pH otot (otot bergaris melintang atau otot skeletal atau yang disebut daging) saat hewan hidup sekitar 7,0-7,2 (pH netral).  Setelah hewan disembelih (mati), nilai pH dalam otot (pH daging) akan menurun akibat adanya akumulasi asam laktat.  Penurunan nilai pH pada otot hewan yang sehat dan ditangani dengan baik sebelum pemotongan akan berjalan secara bertahap, yaitu dari nilai pH sekitar  7,0-7,2 akan mencapai nilai pH menurun secara bertahap dari 7,0 sampai 5,6 – 5,7 dalam waktu 6-8 jam postmortem dan akan mencapai nilai pH akhir sekitar 5,5-5,6.  Nilai pH akhir (ultimate pH value) adalah nilai pH terendah yang dicapai pada otot setelah pemotongan (kematian).   Nilai pH daging tidak akan pernah mencapai nilai di bawah 5,3.  Hal ini disebabkan karena pada nilai pH di bawah 5,3 enzim-enzim yang terlibat dalam glikolisis anaerob tidak aktif berkerja. (Lukman, 2010).
Pada praktikum uji pH sampel yang digunakan adalah daging yang disimpan pada suhu ruang dan daging yang disimpan pada suhu dingin . Praktikum dilakukan dengan pengamatan selama seminggu. Pengamatan hari ke-0, ke-2, dan ke-7. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan kertas indikator pH. Dari hasil praktikum uji pH sampel daging yang disimpan pada suhu ruang  untuk kelompok satu didapatkan pH pada hari ke-0 adalah 7, hari ke-2 adalah 8 dan hari ke-7 9. Begitu juga pada kelompok 3 dengan sampel yang sama pH yang dihasilkan juga sama. Sedangkan pada sampel daging yang disimpan pada suhu dingin (freezer) pH yang dihasilkan daging  untuk kelompok 2 dan 4 sama. Pada hari ke-0 didapatkan pH 7, hari ke-2 pH yang dihasilkan sebesar 7 dan untuk hari ke-7 pH yang dihasilkan sebesar 8. Dari hasil praktikum tersebut penyimpanan yang baik adalah pada suhu freezer karena pH yang dihasilkan tidak terlalu basa. Hasil praktikum ini jika dibandingkan dengan teori tidak sesuai. Standar pH daging hewan sehat dan cukup istirahat yang baru disembelih adalah 7-7,2 dan akan terus menurun selama 24 jam sampai beberapa hari. Jika terjadi pembusukan maka pH nya akan kembali ke 7. Terbentuknya asam laktat menyebabkan penurunan pH daging dan menyebabkan kerusakan struktur protein otot dan kerusakan tersebut tergantung pada temperatur dan rendahnya pH. Setelah hewan disembelih, penyedian oksigen otot terhenti. Dengan demikian persediaan oksigen tidak lagi di otot dan sisa metabolisme tidak dapat dikeluarkan lagi dari otot. Jadi daging hewan yang sudah disembelih akan mengalami penurunan pH (Purnomo dan Adiono, 1985).
Faktor-faktor yang menyebaban ketidak sesuaian hasil praktikum dengan teori adalah kesalahan praktikan saat melakukan uji. Pada beberapa hewan penurunan pH terjadi pada jam-jam pertama setelah hewan dipotong, dan akan stabil pada pH sekitar 6,5 – 6,8. ada juga hewan dimana penurunan pHnya terjadi dengan cepat dan mencapai 5,4 – 5,5 dalam jam pertama setelah eksanguinasi. Menurut Buckle et al. (1987) pH akhir yang tercapai mempunyai pengaruh yang berarti dalam mutu daging. pH rendah (5.1-6.1) menyebabkan daging mempunyai struktur terbuka sehingga sangat baik untuk pengasinan, berwarna merah muda cerah sehingga disukai oleh konsumen, mempunyai flavor yang lebih disukai dan mempunyai stabilitas yang lebih baik terhadap kerusakan oleh mikroorganisme. pH tinggi (6.2-7.2) menyebabkan daging mempunyai struktur tertutup atau padat dengan warna merah ungu tua, rasa kurang enak dan keadaan yang lebih memungkinkan untuk perkembangan mikroorganisme.
Dari seluruh hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa semakin lama daging akan mengalami kerusakan atau sering disebut dengan pembusukan. Hampir semua bakteri dapat tumbuh optimal pada pH 7 dan tidak akan tumbuh pada pH 4 atau pH di atas 9. Pembusukan dapat terjadi karena aktivitas bakteri pembusuk meningkat dan terjadi proses fermentasi oleh enzim-enzim yang membentuk asam sulfida dan ammonia. Pada umumnya, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme pada daging ada dua macam yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah nilai nutrisi daging, keadaan air, pH, potensi oksidasi-reduksi dan ada tidaknya substansi pengahalang atau penghambat. Faktor ekstrinsik, adalah temperatur, kelembaban relatif, ada tidaknya oksigen dan bentuk atau kondisi daging (Fardiaz, 1992). Penanganan daging yang baik harus dimulai sejak ternak itu sebelum dipotong, pada saat pemotongan dan setelah pemotongan.
Tabel 1.3 Hasil Pengamatan Berat Daging Selama Penyimpanan
Kelompok
Sampel
Berat (gram)
Keterangan
Hari ke 0
Hari ke 2
Hari ke 7
1
Daging Segar
5


Suhu Ruang
Daging I
5
4,4

Daging II
5
4,4
3,4
2
Daging Segar
5


Suhu Refil
Daging I
5
3,9

Daging II
5
3,9
3,4
3
Daging Segar
5


Suhu Ruang
Daging I
5
3,7

Daging II
5
3,7
4,5
4
Daging Segar
5


Suhu Refil
Daging I
5
4,5

Daging II
5
4,5
3,3
Sumber: Laporan Sementara
Pengamatan berat daging sealama penyimpanan bertujuan untuk mengetahui apakah ada perubahan berat selama penyimpanan. Menurut Wismer-Pedersen (1971), kenaikan berat dapat terjadi karena peran mikroorganisme yang ada di daging terutama mikroorganisme pembusuk. Daya ikat air oleh protein disebut WHC (Water Holding Capacity) yaitu kemampuan daging untuk menahan air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan, misalnya pemotongan daging, pemanasan, penggilingan, dan tekanan. Pada praktikum acara I untuk mengetahui kualitas daging selain dengan menggunakan uji eber dan uji pH juga dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap berat daging selama penyimpanan. Sampel yang digunakan dalam acara ini adalah menggunakan daging yang masih segar dengan berat 5 gram daging sapi, tetapi untuk kelompok 1 dan 3 daging disimpan pada suhu ruang, sedangkan untuk kelompok 2 dan 4 daging disimpan pada suhu refill atau dingin. Selain itu kemasan yang digunakan untuk penyimpanan daging juga berbeda untuk kelompok 2 dan 3 menggunakan plastik PE sedangkan kelompok 1 dan 4 menggunakan plastik PP. Penyimpanan daging dilakukan selama 7 hari dan diamati 3 kali yaitu pada hari ke-0, 2 dan ke-7. Mekanisme kerja dari pengamatan berat daging selama penyimpanan adalah pertama daging dipotong dan ditimbang sebesar 5 gram, kemudian daging dikemas menggunakan plastik dan disimpan pada perlakuan penyimpanan masing-masing yaitu pada suhu dingin (refill) dan suhu ruang. Dilakukan pengamatan pada hari ke-0, 2 dan 7 dengan menimbang sampel sesuai perlakuan masing-masing.
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan untu kelompok 1 daging yang disimpan pada suhu ruang dengan menggunakan plastik PP pada hari ke-2 dihasilkan berat sebesar 4,4 gram, hari ke-7 sebesar 3,4 gram. Sedangkan untuk kelompok 3 dengan sampel dan suhu penyimpanan yang sama tetapi menggunakan plastik PE pada hari ke-2 didapatkan berat sebesar 3,7 gram dan hari ke-7 4,5 gram. Untuk kelompok 2 dengan sampel daging disimpan pada suhu refil menggunakan plastik PP didapatkan berat untuk hari ke-2 sebesar 3,9 gram, hari ke-7 3,4 gram. Sedangkan kelompok 4 dengan menggunakan plastik PP, untuk hari ke-2 beratnya sebesar 4,5 gram dan hari ke-7 beratnya sebesar 3,3 gram Dari hasil tersebut susut berat yang paling tinggi adalah daging yang disimpan pada suhu refil dengan menggunakan platik PP. Sedangkan daging yang mengalami penyusutan berat yang paling sedikit adalah daging yang disimpan pada suhu ruang dengan menggunakan plastik PE. Dapat disimpulakan bahwa kualitas daging yang baik adalah daging yang disimpan dengan menggunakan plastik PP pada suhu dingin atau refill. Sedangkan daging yang kualitasnya paling buruk adalah daging yang disimpan dengan menggunakan plastik PE pada suhu ruang. Hal ini sudah sesuai dengan teori. Bahwa daging yang disimpan pada suhu dingin  terjadi proses penguapan dari dalam daging dan keluarnya weep dari dalam daging sehingga akan menurunkan kadar air dalam daging. Penurunan kadar air mempengaruhi berat daging. Semakin rendah suhu penyimpanan daging maka semakin banyak kadar air yang hilang sehingga daging menjadi keriput. Penyimpanan pada suhu ruang menyebabkan daging cepat rusak akibat dari bertambahnya kadar air pada daging. Bertambahnya kadar air pada daging disebabkan karena daging mampu menahan air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan, misalnya pemotongan daging, pemanasan, penggilingan, dan tekanan.Hal tersebut dapat menyebabkan mikroba dapat tumbuh dan berkembang biak terutama mikroba pembusuk (Forrest, 1975).